KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menunjukkan kepada kita semua
jalan yang benar. Shalawat dan salamnya penulis haturkan kepada Nabi pembawa
berkah dan penghancur kebatilan, Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Penulisan
Makalah
ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Madya 1.
Selain itu tujuan penulis menyusun Makalah
ini adalah untuk mengetahui lebih jauh mengenai Kerajaan Islam di Nusantara
yaitu Kerajaan Samudra Pasai.
Dalam
penyelesaian Makalah ini, penulis banyak menemui kesulitan. Namun berkat
bimbingan dari beberapa pihak, akhirnya Makalah
ini dapat terselesaikan walaupun masih banyak kekurangannya. Karena itu,
sepantasnya jika penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis
juga sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun agar tugas ini
menjadi lebih baik dan berguna di masa depan.
Mudah-mudahan
Makalah
ini dapat membuktikan bahwa penulis dapat melaksanakan tugas ini dengan
semaksimal mungkin dan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan rekan-rekan
pada umumnya.
Surakarta, 8 Oktober 2013
Penulis,
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL......................................................................
KATA
PENGANTAR....................................................................
DAFTAR
ISI..................................................................................
A. PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang.....................................................................
2. Rumusan
Masalah................................................................
3. Tujuan
Penulisan...................................................................
B. PEMBAHASAN
1. Awal masuk islam di Kerajaan Samudra
Pasai..................................
2. Proses berkembangnya Kerajaan
Samudra Pasai di segala bidang.....
3.
Raja-
raja yang berpengaruh di Kerajaan Samudra Pasai..................
4.
Puncak
kejayaan Kerajaan Samudra Pasai.......................................
5.
Kemunduran
Kerajaan Samudra Pasai..............................................
6.
Peninggalan
dari Kerajaan Samudra Pasai.........................................
C. PENUTUP
1. Simpulan............................................................................................
2. Saran.................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah kedatangan Islam,
terjadi proses penyebaran yang begitu luas. Akibatnya tumbuh dan berkembangnya
kerajaan-kerajaan Islam dikepulauan Indonesia. Kerajaan Islam tersebut tumbuh
dan berkembang di daerah Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan
Kalimantan.
Kerajaan islam di Sumatra yang
dimulai dari berita awal abad ke-16 dari Tome Pires dalam Sume Oriental
(1512-1515) mengatakan bahwa Sumatra, terutama disepanjang pesisir selat Malaka
dan pesisir barat Sumatra telah banyak kerajaan islam baik yang besar maupun
yang kecil. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Aceh, Bican, Lambri, Pedir,
Pirada, Pase, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, Tongakal, Indragiri, Jambi,
Palembang, Andalas, Pariaman, Minangkabau, Tiku, Panchur, dan Barus.[1]
Kerajaan-kerajaan
tersebut ada yang tengah mengalami perkembangan bahkan ada yang sedang
mengalami keruntuhan karena pergeseran politik satu dengan lainnya. Berdasarkan
sumber sejarah lainnya bahkan data arkeologis ada kerajaan Islam yang sudah
tumbuh sejak dua abad sebelum kehadiran Tome Pires, yaitu Kerajaan Islam
Samudra Pasai. Tumbuhnya kerajaan Islam Samudra Pasai tidak dapat dipisahkan
dari letak geografisnya yang senantiasa tersentuh pelayaran dan perdagangan
internasional melalui Selat Malaka yang sudah ada sejak abad-abad pertama Masehi.
Sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi para pedagang muslim dari Arabia, Persi (Iran),
dan dari negeri-negeri Tmur Tengah mulai memegang peranan penting. Dari latar
belakang inilah akan dibahas lebih jauh mengenai kerajaan islam kedua di
Indonesia yang sangat memiliki pengaruh terhadap kerajaan islam lainnya di
Nusantara.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana Awal masuk Islam di
Kerajaan Samudra Pasai?
2. Seperti apa Proses berkembangnya
Kerajaan Samudra Pasai di segala bidang?
3.
Siapa
saja Raja- raja yang berpengaruh di Kerajaan Samudra Pasai?
4.
Bagaiamana
keadaan Puncak kejayaan Kerajaan Samudra Pasai?
5. Faktor
apa yang mempengaruhi Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai?
6. Apa
saja Peninggalan dari Kerajaan Samudra Pasai?
C.
Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum penulisan ini adalah
untuk menyelesaikan tugas Sejarah Indonesia Madya 1 Mengenai Kerajaan
Islam di Nusantara yaitu Kerajaan Samudra Pasai.
2. Tujuan Khusus penelitian ini adalah
untuk mengetahui tentang Awal masuk Islam di Kerajaan Samudra Pasai, Proses
berkembangnya Kerajaan Samudra Pasai di segala bidang, Raja- raja yang
berpengaruh di Kerajaan Samudra Pasai, Puncak kejayaan Kerajaan Samudra Pasai, Kemunduran
Kerajaan Samudra Pasai, Peninggalan dari Kerajaan Samudra Pasai.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Awal masuk islam di Kerajaan Samudra
Pasai
Kedatangan
Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Sekitar abad ke-7 dan 8,
Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim dalam
pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan
berita Cina zaman T’ang, pada abad-abad tersebut diduga masyarakat Muslim telah
ada, baik di Kanton maupun di daerah Sumatera.
Di
Sumatera, daerah yang pertama kali disinggahi oleh orang-orang Islam adalah
pesisir Samudera. Penyebabnya terdiri dari para mubaligh dan saudagar Islam
yang datang dari Arab, Mesir, Persia dan Gujarat. Para saudagar ini banyak
dijumpai di beberapa pelabuhan di Sumatera yaitu di Barus yang terletak di
pesisir Barat Sumatera, Lamuri di pesisir Timur Sumatera dan di pesisir lainnya
seperti di Perlak,yaitu sekitar tahun
674 Masehi.
Kehadiran
agama Islam di Pasai mendapat tanggapan yang cukup berarti di kalangan
masyarakat. Di Pasai agama Islam tidak hanya diterima oleh lapisan masyarakat
pedesaan atau pedalaman malainkan juga merambah lapisan masyarakat perkotaan.
Dalam perkembangan selanjutnya, berdirilah kerajaan Samudera Pasai.
Samudera
Pasai didirikan oleh Nizamudin Al-Kamil pada tahun 1267. Nizamudin Al-Kamil
adalah seorang laksmana angkatan laut dari Mesir sewaktu dinasti Fatimiyah
berkuasa. Ia ditugaskan untuk merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat pada tahun
1238 M. Setelah itu, ia mendirikan kerajaan Pasai untuk menguasai perdagangan
Lada. Dinasti Fatimiyah merupakan dinasti yang beraliran paham Syiah, maka bisa
dianggap bahwa pada waktu itu Kerajaan Pasai juga berpaham Syiah. Akan tetapi,
pada saat ada ekspansi ke daerah Sampar Kanan dan Sampar Kiri sang laksamana
Nizamudin Al-Kamil gugur.
Setelah
keruntuhan dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah pada tahun 1284, dinasti
Mamuluk yang bermadzhab Syafi’I berinisiatif mengambil alih kekuasaan Kerajaan
Pasai. Selain untuk menghilangkan pengaruh Syiah, penaklukan ini juga bertujuan
untuk menguasai pasar rempah-rempah dan lada dan pelabuhan Pasai. Maka, Syekh
Ismail bersama Fakir Muhammad menunaikan tugas tersebut. Mereka akhirnya dapat
merebut Pasai. Selanjutnya dinobatkanlah Marah Silu sebagai raja Samudera Pasai
yang pertama oleh Syekh Ismail. Setelah Marah Silu memeluk Islam dan dinobatkan
menjadi raja, dia diberi gelar “Malikus Saleh” pada tahun 1285. Nama ini adalah
gelar yang dipakai oleh pembangunan kerajaan Mamuluk yang pertama di Mesir
yaitu “Al Malikus Shaleh Ayub”.
Ada
kisah-kisah menarik yang diterangkan dalam Hikayat Raja Pasai seputar Marah
Silu. Kisah-kisah ini nyaris di luar nalar dan beraroma mistis. Seperti adanya
sabda Rasulullah yang menaubatkan berdirinya kerajaan Samudera Pasai ataupun
kisah Merah Silu yang tanpa diajari siapapun mampu membaca Al Quran 30 juz
dengan sempurna. Terlepas dari itu, Malik As Saleh kemudian berpindah paham,
dari Syiah menjadi paham Syafi’i. Maka aliran paham di Kerajaan Samudera Pasai
yang semula Syiah berubah menjadi paham Syafi’I yang sunni.
B.
Proses berkembangnya Kerajaan
Samudra Pasai di segala bidang
Dengan timbulnya Kerajaan Samudra Pasai maka
Kesultanan Perlak mengalami kemunduran. Samudra Pasai tampil sebagai bandar
dagang utama di pantai timur Sumatra Utara. Samudra Pasai tidak hanya menjadi
pusat perdagangan lada ketika itu, tetapi juga sebagai pusat pengembangan agama
Islam bermazhab Syafi’i.
Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Saleh berkembanglah agama
Islam mazhab Syafi’i. Awalnya Sultan Malik Al Saleh merupakan pemeluk Syi’ah
yang di bawa dari pedagang-pedagang Gujarat yang datang ke Indonesia pada abad
12. Pedagang-pedagang Gujarat bersama-sama pedagang Arab dan Persia menetap di
situ dan mendirikan kerajaan-kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu
Kerajaan Perlak di muara Sungai Perlak dan Kerajaan Samudra Pasai di muara
Sungai Pasai. Namun kemudian Sultan
Malik Al Saleh berpindah menjadi memeluk Islam bermazhab Syafi’i atas bujukan
Syekh Ismail yang merupakan utusan Dinasti Mameluk di Mesir yang beraliran
mazhab Syafi’i. Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Saleh juga Samudra Pasai
mendapat kunjungan dari Marco Polo.
a.
Kehidupan Politik
Raja pertama samudra pasai sekaligus
pendiri kerajaan adalah Marah silu bergelar sultan Malik al Saleh, dan
memerintah antara tahun 1285-1297. Pada masa pemerintahan Sultan Malik Al Saleh, kerajaan tersebut telah memiliki lembaga Negara yang teratur
dengan angkatan perang laut dan darat yang kuat, meskipun demikian, secara
politik kerajaan Samudra Pasai masih berada dibawah kekuasaan Majapahit. Pada
tahun 1295, Sulthan malik al saleh menunjuk anaknya sebagai raja, yang kemudian
dikenal dengan Sultan Malik Al Zahir I (1297-1326), Pada masa pemerintahannya
samudra pasai berhasail menaklukkan kerajaan islam Perlak.
Setelah sultan Malik Al Zahir I
mangkat, Pimpinan kerajaan diserahkan kepada Sultan ahmad laikudzahir yang
bergelar Sulthan Malik Al Zahir II (1326-1348)
b.
Kehidupan Ekonomi
Karena
letak geografisnya yang strategis, ini mendukung kreativitas mayarakat untuk
terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar
yang digunakan untuk :
·
Menambah
perbekalan untuk pelayaran selanjutnya
·
Mengurus
soal – soal atau masalah – masalah perkapalan
·
Mengumpulkan
barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
·
Menyimpan
barang – barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia
Tahun 1350 M merupakan masa puncak
kebesaran kerajaan Majapahit, masa itu juga merupakan masa kebesaran Kerajaan
Samudera Pasai. Kerajaan Samudera Pasai juga berhubungan langsung dengan
Kerajaan Cina sebagai siasat untuk mengamankan diri dari ancaman Kerajaan Siam
yang daerahnya meliputi Jazirah Malaka.
Perkembangan ekonomi masyarakat
Kerajaan Samudera Pasai bertambah pesat, sehingga selalu menjadi perhatian
sekaligus incaran dari kerajaan – kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudera
Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka maka pusat perdagangan dipindahkan ke
Bandar Malaka.
c.
Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan
Samudera Pasai diatur menurut aturan – aturan dan okum – okum Islam. Dalam
pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di
negeri Mesir maupun di Arab. Karena persamaan inilah sehingga daerah Aceh
mendapat julukan Daerah Serambi Mekkah.
C.
Raja- raja yang berpengaruh di
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Samudra Pasai ini merupakan kerajaan islam kedua sesudah Perlak. Sumber-sumber
sejarah mengenai kerajaan ini jauh lebih lengkap dibandingkan dengan kerajaan
pertama. Disamping Hikayat, berita-berita luar negeri, kerajaan ini juga
meninggalkan peninggalan arkeologis berupa prasasti yang dapat menjadi saksi
utama mengenai telah berdirinya kerajaan ini.
Menurut
buku Daliman, Pendiri kerajaan Samudra Pasai adalah Sultan Malik Al Shaleh. Hal
ini diketahui dengan pasti dari prasasti yang terdapat dari batu nisan makamnya
yang menyatakan bahwa sultan Malik Al Shaleh ini meninggal pada bulan Ramadhan
676 tahun sesudah hijrah Nabi atau 1297, jadi 5 tahun sesudah kunjungan
Marcopolo ke negeri ini dalam perjalanannya pulang dari Cina.
Tradisi
dari hikayat raja-raja Pasai menceritakan asal-usul Sultan Malik Al-Saleh.
Sebelum menjadi raja dan bergelar Sultan, raja ini semula adalah seorang marah
dan bernama Marahsilu. Ayah Marahsilu bernama Marah Gajah dan ibunya adalah
Putri Betung. Putri Betung mempunyai rambut pirang di kepalanya. Ketika rambut
pirang itu dibantun oleh Marah Gajah keluarlah darah putih. Setelah darah putih
itu berhenti mengalir, maka menghilanglah Putri Betung. Peristiwa itu didengar
oleh ayah angkat Putri Betung ialah Raja Muhammad. Raja Muhammad karena marah
segera mengerahkan orang-orangnya untuk mencari dan menangkap Marah Gajah. Marah
Gajah yang takut karena kehilangan Putri Betung menyingkir dan meminta
perlindungan dari ayah angkatnya pula yang bernama Raja Ahmad. Ternyata Raja
Muhammad dan Raja Ahmad adalah dua orang bersaudara. Tetapi karena peristiwa
Putri Betung d atas, maka kedua orang bersaudara itu akhirnya berperang.
Keduanya tewas dan Marah Gajah sendiri juga tewas terbunuh dalam peperangan.
Putri Betung meninggalkan dua orang putra yaitu Marah Sum dan Marah Silu,
mereka berdua meninggalkan tempat kediamannya dan mulai hidup mengembara. Marah
Sum kemudian menjadi raja Biruen. Sedang Marah Silu akhirnya dapat merebut
rimba Jirun dan menjadi raja di situ. Marah Slu mendirikan istana kerajaannya
di atas bukit yang banyak didiami oleh semut besar yang oleh rakyat di
sekitarnya disebut Semut Dara (Samudra). Itulah sebabnya maka negara itu
kemudian dinamakan negara Samudra.
Semula
Marah Silu adalah penganut agama Islam aliran Syi’ah. Seperti kita ketahui
bahwa agama Islam yang berpengaruh di pantai timur Sumatra Utara pada waktu itu
adalah agama Islam aliran Syi’ah.
Untuk
melenyapkan pengaruh Syi’ah dan untuk kemudian mengembangkan Islam mahzab
Syafi’i di pantai timur Sumatra Utara, maka Dinasti Mameluk di Mesir yang
beraliranmahzab Syafi’i pada 1254 mengirimkan Syekh Ismail ke pantai timur
Sumatra Utara bersama Fakir Muhammad, bekas ulama di pantai barat India. Di
Samudra Pasai, Syekh Ismail berhasil menemui Marah Silu dan berhasil pula
membujukknya untk memeluk agama Islam mahzab Syafi’i kemudian Syekh Ismail
menobatkan Marah Silu sebagai Sultan pertama di kerajaan Samudra Pasai dan
bergelar Sultan Malik Al-Saleh. Pengikut Marah Silu yang bernama Sri Kaya dan
Bawa Kaya ikut juga masuk mahzab Syafi’i dan berganti nama pula menjadi Sidi
Ali Khiauddin dan Sidi Ali Hassanuddin.
Penobatan Marah Silu sebagai Sultan pertama di Samudra Pasai
oleh Syekh Ismail ini didasarkan atas beberapa pertimbangan. Setelah Sultan Malik Al Saleh meninggal pada 1297 ia digantikan
oleh putranya, Sultan Muhammad, yang lebih terkenal dengan Sultan Malik Al Tahir
yang memerintah sampai tahun 1326. Kemudian ia digantikan oleh Sultan Ahmad
Bahian Syah Malik Al Tahir dan pada masa pemerintahan beliau Samudra Pasai juga
mendapat kunjungan dari Ibnu Batutah. Ibnu Battutah adalah seorang dari Afrika
Utara yang bekerja pada Sultan Delhi di India. Ia mengunjungi Samudra Pasai
dalam rangka singgah ketika melakukan perjalanannya ke Cina sebagai utusan
Sultan Delhi. Dalam catatan-catatan Ibnu Batutah kita dapat mengetahui bagaimana peranan
Samudra Pasai ketika perkembangannya. Sebagai bandar utama perdagangan di
pantai timur Sumatra Utara, Samudra Pasai banyak didatangi oleh kapal-kapal
dari India, Cina, dan dari daerah-daerah lain di Indonesia. Di bandar tersebut
kapal-kapal saling bertemu, transit, membongkar serta memuat barang-barang
dagangannya.
Dalam sistem
pemerintahanannya, Samudra Pasai mengadopsi dari India dan Persia. Keraton dan
Istana Kerajaan Samudra Pasai dibangun bergaya arsitektur India. Pengaruh
Persia dapat terlihat dari gelar-gelar yang digunakan oleh pemerintahan
kerajaan. Raja sendiri menggunakan gelar syah, sedang patihnya yang
mendampingi raja bergelar amir, bahkan di antara pembesar-pembesar
kerajaan terdapat pula orang Persia.
D.
Puncak kejayaan Kerajaan Samudra
Pasai
Puncak Kejayaan Samudra Pasai Puncak
kejayaan kerajaan samudra pasai ini ditandai dengan adanya perkembangan
dibidang-bidang kehidupan kerajaan Samudra pasai, seperti ;
a. Di bidang perekonomian dan perdagangan
Dalam segi ekonomi perkembangan kerajaan
Samudra Pasai ini ditandai dengan sudah adanya mata uang yang diciptakan
sendiri untuk alat pembayaran yang terbuat dari emas, uang ini dinamakan
Dirham. Selain itu, ditandai juga dengan berkembangnya Kerajaan Samudra Pasai
menjadi pusat perdagangan internasional pada masa pemerintahan Sultan Malikul
Dhahir, dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama. Saat itu Pasai
diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya,
selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan
dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor-impor yang maju. Sebagai
bandar dagang yang maju. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa
juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang -pedagang
Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka
dibebaskan dari pembayaran cukai.
b. Di bidang sosial dan budaya
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan
Samudera Pasai diatur menurut aturan–aturan dan hukum – hukum Islam. Dalam
pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di
negeri Mesir maupun di Arab. Karena persamaan inilah sehingga daerah Aceh
mendapat julukan Daerah Serambi Mekkah. Kerajaan Samudera Pasai berkembang
sebagai penghasil karya tulis yang baik. Beberapa orang berhasil memanfaatkan
huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa
Melayu, yang kemudian disebut dengan bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab
Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian
awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai
dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu
tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk
menuliskan buku-bukunya. Selain itu juga berkembang ilmu tasawuf yang diterjemahkan
ke dalam bahasa Melayu.
c. Di bidang agama
Sesuai dengan berita dari Ibn Battutah
tentang kehadiran ahli-ahli agama dari Timur Tengah, telah berperan penting
dalam proses perkembangan Islam di Nusantara. Berdasarkan hal itu pula,
diceritakan bahwa Sultan Samudra Pasai begitu taat dalam menjalankan agama
Islam sesuai dengan Mahzab Syafi'I dan ia selalu di kelilingi oleh ahli-ahli
teologi Islam. Dengan raja yang telah beragama Islam, maka rakyat pun memeluk
Islam untuk menunjukan kesetiaan dan kepatuhannya kepada sang raja. Karena
wilayah kekuasaan Samudra Pasai yang cukup luas, sehingga penyebaran agama
Islam di wilayah Asia Tenggara menjadi luas.
d. Di bidang politik
Pada masa pemerintahan Sultan Malik
as-Shalih telah terjalin hubungan baik dengan Cina. Diberitakan bahwa Cina
telah meminta agar Raja Pasai untuk mengirimkan dua orang untuk dijadikan duta
untuk Cina yang bernama Sulaeman dan Snams-ad-Din. Selain dengan Cina, Kerajaan
Samudra Pasai juga menjalin hubungan baik dengan negeri-negeri Timur Tengah. Pada
masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik az-Zahir, ahli agama mulai dari berbagai
negeri di Timur Tengah salah satunya dari Persi (Iran) yang bernama Qadi Sharif
Amir Sayyid dan Taj-al-Din dari Isfahan. Hubungan persahatan Kerajaan Samudra
Pasai juga terjalin dengan Malaka bahkan mengikat hubungan perkawinan.
E.
Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai
1. Faktor Interen Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai
a.
Tidak Ada Pengganti yang Cakap dan Terkenal Setelah Sultan Malik At Thahrir
Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan pada masa
pemerintahan Sultan Malik At Tahrir, sistem pemerintahan Samudera Pasai sudah
teratur baik, Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan internasional.
Pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, China, dan Eropa berdatangan ke Samudera
Pasai. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin erat.
Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada.
Setelah Sultan Malik At Tahrir wafat tidak ada penggantinya
yang cakap dalam meminmpin kerajaan Samudra Pasai dan terkenal, sehingga peran
penyebaran agama Islam diambil alih oleh kerajaan Aceh.
Kerajaan
Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang
mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru
tersebut yakni Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat
Syah. Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing
kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan
Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan
Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali
Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran
Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum benar-benar runtuh. Sejak saat
itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh
Darussalam.
b. Terjadi
Perebutan kekuasaan
Pada
tahun 1349 Sultan Ahmad Bahian Syah malik al Tahir meninggal dunia dan
digantikan putranya yang bernama Sultan Zainal Abidin Bahian Syah Malik al-Tahir.
Bagaimana pemerintahan Sultan Zainal Abidin ini tidak banyak diketahui. Rupanya
menjelang akhir abad ke-14 Samudra Pasai banyak diliputi suasana kekacauan
karenaa terjadinya perebutan kekuasaan, sebagai dapat diungkap dari
berita-berita Cina. Beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Samudra
Pasai, yaitu pemberontakan yang dilakukan sekelompok orang yang ingin
memberontak kepada pemerintahan kerajaan Samudra Pasai. Karena pemberontakan ini, menyebabkan
beberapa pertikaian di Kerajaan Samudra Pasai. Sehingga terjadilah perang
saudara yang membuat pertumpahan darah yang sia-sia. Untuk mengatasi hal ini,
Sultan Kerajaan Samudra Pasai waktu itu melakukan sesuatu hal yang bijak, yaitu
meminta bantuan kepada Sultan Malaka untuk segera menengahi dan meredam
pemberontakan. Namun Kesultanan Pasai sendiri
akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun1521 yang sebelumnya telah menaklukan
Malaka tahun 1511, dan kemudian
tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian
dari kedaulatan Kesultanan Aceh.
2. Faktor
Eksteren kemunduran Kerajaan Samudra Pasai
a.
Serangan dari Majapahit Tahun 1339
Kejayaan
Kerajaan Samudera Pasai mulai mengalami ancaman dari Kerajaan Majapahit dengan
Gajah Mada sebagai mahapatih. Gajah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan
pada periode 1319-1321 Masehi oleh Raja Majapahit yang kala itu dijabat oleh
Jayanegara. Pada 1331, Gajah Mada naik pangkat menjadi Mahapatih ketika
Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribuana Tunggadewi. Ketika pelantikan Gajah Mada
menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan Sumpah
Palapa, yaitu bahwa Gajah Mada tidak akan menikmati buah palapa sebelum seluruh
Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Mahapatih
Gajah Mada rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kebesaran Kerajaan
Samudera Pasai di seberang lautan sana. Majapahit khawatir akan pesatnya
kemajuan Kerajaan Samudera Pasai. Oleh karena itu kemudian Gajah Mada
mempersiapkan rencana penyerangan Majapahit untuk menaklukkan Samudera Pasai.
Desas-desus tentang serangan tentara Majapahit, yang menganut agama Hindu
Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai santer terdengar di kalangan
rakyat di Aceh. Ekspedisi Pamalayu armada perang Kerajaan Majapahit di bawah
komando Mahapatih Gajah Mada memulai aksinya pada 1350 dengan beberapa tahapan.
Serangan
awal yang dilakukan Majapahit di perbatasan Perlak mengalami kegagalan karena
lokasi itu dikawal ketat oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Namun, Gajah
Mada tidak membatalkan serangannya. Ia mundur ke laut dan mencari tempat lapang
di pantai timur yang tidak terjaga. Di Sungai Gajah, Gajah Mada mendaratkan
pasukannya dan mendirikan benteng di atas bukit, yang hingga sekarang dikenal
dengan nama Bukit Meutan atau Bukit Gajah Mada.
Gajah
Mada menjalankan siasat serangan dua jurusan, yaitu dari jurusan laut dan
jurusan darat. Serangan lewat laut dilancarkan terhadap pesisir di Lhokseumawe
dan Jambu Air. Sedangkan penyerbuan melalui jalan darat dilakukan lewat Paya
Gajah yang terletak di antara Perlak dan Pedawa. Serangan dari darat tersebut
ternyata mengalami kegagalan karena dihadang oleh tentara Kesultanan Samudera
Pasai. Sementara serangan yang dilakukan lewat jalur laut justru dapat mencapai
istana.
Selain
alasan faktor politis, serangan Majapahit ke Samudera Pasai dipicu juga karena
faktor kepentingan ekonomi. Kemajuan perdagangan dan kemakmuran rakyat
Kerajaaan Samudera Pasai telah membuat Gajah Mada berkeinginan untuk dapat
menguasai kejayaan itu. Ekspansi Majapahit dalam rangka menguasai wilayah
Samudera Pasai telah dilakukan berulangkali dan Kesultanan Samudera Pasai pun
masih mampu bertahan sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai surut seiring
semakin menguatnya pengaruh Majapahit di Selat Malaka.
Hingga
menjelang abad ke-16, Kerajaan Samudera Pasai masih dapat mempertahankan
peranannya sebagai bandar yang mempunyai kegiatan perdagangan dengan luar
negeri. Para ahli sejarah yang menumpahkan minatnya pada perkembangan ekonomi
mencatat bahwa Kerajaan Samudera Pasai pernah menempati kedudukan sebagai
sentrum kegiatan dagang internasional di nusantara semenjak peranan Kedah
berhasil dipatahkan.
Namun,
kemudian peranan Kerajaan Samudera Pasai yang sebelumnya sangat penting dalam
arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan dunia mengalami kemerosotan
dengan munculnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu Bandar Malaka
segera menjadi primadona dalam bidang perdagangan dan mulai menggeser kedudukan
Pasai. Tidak lama setelah Malaka dibangun, kota itu dalam waktu yang singkat
segera dibanjiri perantau-perantau dari Jawa.
Akibat
kemajuan pesat yang diperoleh Malaka tersebut, posisi dan peranan Kerajaan
Samudera Pasai kian lama semakin tersudut, nyaris seluruh kegiatan
perniagaannya menjadi kendor dan akhirnya benar-benar patah di tangan Malaka
sejak tahun 1450. Apalagi ditambah kedatangan Portugis yang berambisi menguasai
perdagangan di Semenanjung Melayu. Orang-orang Portugis yang pada 1521 berhasil
menduduki Kesultanan Samudera Pasai.
b. Berdirinya
Bandar Malaka yang Letaknya Lebih Strategis
Tercatat, selama abad 13 sampai awal
abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka
dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Pasai menjadi pusat perdagangan
internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.
Letak geografis kerajaan samudera
pasai terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera bagian utara berdekatan dengan
jalur pelayaran internasional (Selat Malaka). Letak Kerajaan Samudera Pasai
yang strategis, mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia
maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar - bandar yang digunakan
untuk:
1) Menambah perbekalan pelayaran
selanjutnya
2) Mengurus masalah – masalah
perkapalan
3) Mengumpulkan barang – barang
dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
4) Menyimpan barang – barang dagangan
sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.
Namun Setelah kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Kerajaan
Malaka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka. Dengan beralihnya pusat perdagangan ke Bandar Malaka maka
perekonomian di Bandar Malaka menjadi ramai karena letaknya yang lebih
strategis dibanding bandar-bandar di Samudra Pasai.
c.
Serangan Portugis
Orang-orang
Portugis memanfaatkan keadaan kerajaan Samudra Pasai yang sedang lemah ini
karena adanya berbagai perpecahan (kemungkinan karena politik / kekuasaan)
dengan menyerang kerajaan Samudra Pasai hingga akhirnya kerajaan Samudra Pasai
runtuh. Sebelumnya memang orang-orang Portugis telah menaklukan kerajaan Malaka,
yang merupakan kerajaan yang sering membantu kerajaan Samudra Pasai dan
menjalin hubungan dengan kerajaan Samudra Pasai.
Orang-orang Portugis datang ke
Malaka, karena telah mengetahui bahwa pelabuhan Malaka merupakan pelabuhan
transito yang banyak didatangi pedagang dari segala penjuru angin. Malaka
dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Julukan itu diberikan mengingat
peranannya sebagai jalan lalu lintas bagi pedagang-pedagang asing yang hendak
masuk dan keluar pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Malaka pada akhir abad ke-15
dikunjungi oleh para saudagar yang datang dari Arab, India, Asia Tenggara dan
saudagar-saudagar Indonesia. Hal ini sangat menarik perhatian orang-orang
Portugis.
Maksud Portugis untuk menduduki
Malaka adalah untuk menguasai perdagangan melalui selat Malaka.Kedatangan
orang-orang Portugis di bawah pimpinan Diego Lopez de Squeira ke Malaka atas
perintah raja Portugis, bertujuan untuk membuat perjanjian-perjanjian dengan
penguasa-penguasa di Malaka. Perjanjian-perjanjian ini dimaksudkan untuk
memperoleh suatu izin perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Jadi
semboyan orang-orang Portugis untuk meluaskan daerah pengaruhnya tidak hanya
bermotif penyebaran agama akan tetapi terutama motif ekonomi.
F.
Peninggalan dari Kerajaan Samudra
Pasai
1. Peninggalan
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai diyakini pernah berjaya dibuktikan dengan beberapa peninggalan
dari kerajaan tersebut. Sayangnya, kerajaan Samudra Pasai tidak banyak
meninggalkan batu prasasti sebagai peninggalan bersejarah. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya perhatian masyarakat dan pemerintah setempat terhadap
bukti- bukti peninggalan sejarah. Peneliti independen dari pusat informasi
Samudra Pasai Heritage Lhouksemawe, Taqiyuddin mengungkapkan benda peninggalan
bersejarah Kerajaan Samudera Pasai tersebar di hampir seluruh wilayah Aceh,
khususnya Aceh Utara. Namun, sampai saat ini belum ada upaya untuk menggali dan
meneliti peninggalan bersejarah tersebut. Umumnya peninggalan bersejarah
Samudera Pasai berupa nisan bertuliskan kaligrafi arab gundul yang khas.
(Mohamad Burhanuddin,2011).
Sekelompok minoritas kreatif
berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, untuk menulis
karya mereka dalam bahasa Melayu.
Inilah yang kemudian disebut
sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis
tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan
ditulis sekitar tahun 1360 M. Hikayat Raja Pasai ini dapatlah dibagi
menjadi tiga bagian yaitu mengenai asal usul pembukaan negeri-negeri Pasai dan
Samudera, pengislaman Merah Silau dan kejatuhan kerajaan Pasai ke Majapahit.
Hikayat Raja Pasai ini juga berisi
kisah-kisah mitos seperti kelahiran Puteri Buluh Betung, mitos pembukaan
negeri Samudera (semut besar), silsilah
raja-raja Majapahit dan legenda tokoh-tokoh Tun Beraim Bapa, Sultan
Ahmad dan Sultan Malikul Saleh yang seharusnya dipercayai dalam wujud realiti sejarah Samudera-Pasai. HRP menandai
dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara.
Sejalan
dengan itu, juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu
adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Kitab ini kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari
Sultan Malaka. Informasi di atas mencerminkan sekelumit peran yang telah
dimainkan oleh Samudra Pasai dalam posisinya sebagai pusat pertumbuhan Islam di
Asia Tenggarapada masa itu.
Samudera
Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para
saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia.
Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera
Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan
secara resmi di kerajaan tersebut. Uang
dirham juga menjadi peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang menandakan kekuatan
ekonomi pada saat itu. Pada satu sisi
dirham atau mata uang emas itu tertulis; Muhammad Malik Al-Zahir. Sedangkan di
sisi lainnya tercetak nama Al-Sultan Al-Adil. Diameter Dirham itu sekitar 10 mm
dengan berat 0,60 gram dengan kadar emas 18 karat.
Di
samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat
perkembangan agama Islam. Banyak makam –
makam para pemimpin kerajaan Samudra Pasai yang merupakan bukti nyata adanya
kerajaan Samudra Pasai. Beberapa makam terseut adalah :
a. Makam Sultan Malik AL-Saleh
Makam
Malik Al-Saleh terletak di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, sekitar 17 km
sebelah timur Lhokseumawe. Nisan makam sang sultan ditulisi huruf Arab.
b. Makam Sultan Maulana Al Zhahir
Malik Al-Zahir adalah putera Malik
Al- Saleh, Dia memimpin Samudera Pasai sejak 1287 hingga 1326 M. Pada nisan
makamnya yang terletak bersebelahan dengan makam Malik Al-Saleh, tertulis
kalimat; Ini adalah makam yang dimuliakan Sultan Malik Al-Zahir, cahaya dunia
dan agama. Al-Zahir meninggal pada 12 Zulhijjah 726 H atau 9 November 1326.
c. Makam Nahriyah
Nahrisyah adalah seorang ratu dari
Kerajaan Samudera Pasai yang memegang pucuk pimpinan tahun 1416-1428 M. Ratu
Nahrisyah dikenal arif dan bijak. Ia bertahta dengan sifat keibuan dan penuh
kasih sayang. Harkat dan martabat perempuan begitu mulia pada masanya sehingga
banyak yang menjadi penyiar agama pada masa tersebut. Makamnya terletak di
Gampông Kuta Krueng, Kecamatan Samudera ± 18 km sebelah timur Kota Lhokseumawe,
tidak jauh dari Makam Malikussaleh . Surat Yasin dengan kaligrafi yang indah
terpahat dengan lengkap pada nisannya. Tercantum pula ayat Qursi, Surat Ali
Imran ayat 18 19, Surat Al-Baqarah ayat 285 286, dan sebuah penjelasan dalam
aksara Arab yang artinya, “Inilah makam yang suci, Ratu yang mulia almarhumah
Nahrisyah yang digelar dari bangsa chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu
Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, mangkat
pada Senin 17 Zulhijjah 831 H” (1428 M).
d. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul
Nillah
Teungku Sidi Abdullah Tajul Milah
berasal dari Dinasti Abbasiyah dan merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir
yang meninggalkan negerinya ( Irak ) karena diserang oleh tentara Mongolia.
Beliau berangkat dari Delhi menuju Samudera Pasai dan mangkat di Pasai tahun
1407 M. Ia adalah pemangku jabatan Menteri Keuangan. Makamnya terletak di
sebelah timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya terbuat dari marmer berhiaskan ukiran
kaligrafi, ayat Qursi yang ditulis melingkar pada pinggiran nisan. Sedangkan di
bagian atasnya tertera kalimat Bismillah serta surat At-Taubah ayat
21-22.
e. Makam Naina Hasanuddin
Naina
Hasamuddin wafat pada bulan Syawal 823 H ( 1420 M ). Makam beliau terletak di
Gampong Mns. Pie Kecamatan Samudera kabupaten Aceh Utara , dalam komplek makam
terdapat 12 batu pusara. Situs makam ini berhiaskan ornamen dan kaligrafi ayat
Kursi di atas batu pualam, ditambah dengan sepotong sajak berbahasa Parsi
berisikan petuah mati bagi yang hidup, Sajak tersebut ditulis penyair Iran
Syech Muslim Al-Din Sa’di (1193-1292) yang diterjemahkan oleh sejarawan Ibrahim
Alfian: Tiada terhitung bilangan tahun melintasi bumi, Laksana mata air
mengalir dan semilir angin lalu, Bila kehidupan hanyalah separangkat kumpulan
hari-hari manusia, Mengapa penyinggah bumi ini menjadi angkuh? Oh, sahabat!
Jika kau lewat makam seorang musuh, Janganlah bersuka cita, sebab hal yang sama
jua akan menimpamu, Wahai yang bercelik mata dengan kesombongan, Debu-debu akan
merasuki tulang belulang Laksana pupur cetak memasuki kotak penyimpanannya.
Barangsiapa menyombongkan diri dengan hiasan bajunya, Esok hari jasadnya yang
terkubur hanya tinggal menguap.
Dunia sarat persaingan dan sedikit kasih sayang, Ketika tersadar ia terkapar tanpa daya.
Dunia sarat persaingan dan sedikit kasih sayang, Ketika tersadar ia terkapar tanpa daya.
Demikianlah
sesungguhnya jasad yang kau lihat terbujur berkalang tanah Barang siapa
memenuhi peristiwa penting ini dari kehidupannya nanti, Kemanakah ia harus
menghindar? Tak ada yang mampu memberi pertolongan, kecuali amal shaleh.
Saidi bernaung dibawah bayang Allah yang maha pemurah Yaa
Rabbi, janganlah siksa hambamu-Mu yang malang dan tak berdaya ini Dosa
senantiasa berasal dari kami, sedang engkau penuh limpahan belas kasih.
f. Makam Perdana Menteri
Situs ini disebut juga Makam Teungku
Yacob. Beliau adalah seorang Perdana Menteri pada zaman Kerajaan Samudera Pasai
sehingga makamnya digelar Makam Perdana Menteri. Beliau mangkat pada bulan
Muharram 630 H (Augustus 1252 M). Di lokasi ini terdapat 8 buah batu pusara
dengan luas pertapakan 8 x 15 m. Nisannya bertuliskan kaligrafi indah surat
Al-Ma’aarij ayat 18-23 dan surat Yasin ayat 78-81.
g. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet
h. Makam Said Syarif
i.
Makam
Teungku Diboih
Makam Teungku Di Iboih adalah milik
Maulana Abdurrahman Al-Fasi. Sebagian arkeolog berpendapat bahwa makam ini
lebih tua daripada makam Malikussaleh. Makam ini terletak di Gampông Mancang,
Kecamatan Samudera ± 16 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Batu nisannya
dihiasi dengan kaligrafi yang indah terdiri dari ayat Qursi, surat Ali Imran
ayat 18, dan surat At-Taubah ayat 21-22.
j.
Makam Batte
Makam ini merupakan situs
peninggalan sejarah Kerajaan Samudera Pasai. Tokoh utama yang dimakamkan pada
Situs Batee Balee ini adalah Tuhan Perbu yang mangkat tahun 1444 M.
Lokasi di desa Meucat Kecamatan
Samudera ± sebelah Timur Kot Lhokseumawe. Diantara nisan-nisan tersebut ada
yang bertuliskan kaligrafi yang indah yang terdiri dari surat Yasin, Surat Ali
Imran, Surat Al’Araaf, Surat Al-Jaatsiyah dan Surat Al-Hasyr.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kerajaan
Samudra Pasai muncul pada abad ke 13 Masehi ketika Kerajaan Sriwijaya hancur.
Kota Kerajaan di sebut Pasai, sekarang ini letaknya di Desa Beuringen Kec.
Samudera Geudong Kab. Aceh Utara Provinsi Aceh. Wilayah Kekuasaan Kesultanan
Pase (Pasai) pada masa kejayaannya sekitar abad ke 14
terletak di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di pantai Utara Aceh,
yaitu sungai Peusangan dan sungai Jambo Aye, jelasnya Kerajaan Samudra Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah daerah yang pertama kali disinggahi oleh orang-orang Islam adalah pesisir Samudera. Penyebabnya terdiri dari para mubaligh dan saudagar Islam yang datang dari Arab, Mesir, Persia dan Gujarat. Para saudagar ini banyak dijumpai di beberapa pelabuhan di Sumatera yaitu di Barus yang terletak di pesisir Barat Sumatera, Lamuri di pesisir Timur Sumatera dan di pesisir lainnya seperti di Perlak,yaitu sekitar tahun 674 Masehi.
terletak di daerah yang diapit oleh dua sungai besar di pantai Utara Aceh,
yaitu sungai Peusangan dan sungai Jambo Aye, jelasnya Kerajaan Samudra Pasai adalah daerah aliran sungai yang hulunya berasal jauh ke pedalaman daratan tinggi Gayo Kab. Aceh Tengah daerah yang pertama kali disinggahi oleh orang-orang Islam adalah pesisir Samudera. Penyebabnya terdiri dari para mubaligh dan saudagar Islam yang datang dari Arab, Mesir, Persia dan Gujarat. Para saudagar ini banyak dijumpai di beberapa pelabuhan di Sumatera yaitu di Barus yang terletak di pesisir Barat Sumatera, Lamuri di pesisir Timur Sumatera dan di pesisir lainnya seperti di Perlak,yaitu sekitar tahun 674 Masehi.
Kehadiran
agama Islam di Pasai mendapat tanggapan yang cukup berarti di kalangan
masyarakat. Di Pasai agama Islam tidak hanya diterima oleh lapisan masyarakat
pedesaan atau pedalaman malainkan juga merambah lapisan masyarakat perkotaan.
B. Saran
Kita
sebagai mahasiswa khususnya pendidikan sejarah harus mengetahui tentang awal
berdirinya suatu kerajaan dengan mengusung corak agama islam yang seperti kita
tahu bahwa islam menjadi negara mayoritas didunia. Kita bisa belajar tentang
bagaimana suatu kerajaan dalam memulai suatu pemeritahan hingga mencapai puncak
kejayaan yang memerlukan waktu yang sangat lama. Kita bisa mengambil pelajaran
dari peristiwa tersebut untuk kehidupan yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Badri Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali
Pres
Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.Yogyakarta
: Ombak
Kartodirdjo, Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia III “Jaman
Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia”. Jakarta:
Departemen Pandidikan dan Kebudayaan
Poesponegoro, Marwati Djoened. 1993. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta:
Balai Pustaka
Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia III Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan
Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sumber Internet:
mohammad Burhanuddin. 2001. Peninggalan Samudera
Pasai yang Merana. nasional.kompas.com (diakses pada 11 Oktober 2013)
http://studentmandapo.wordpress.com
http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/08/15/m8segy-samudera-pasai-khilafah-islam-nusantara-2
http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/2010/02/21/kerajaan-samudera-pasai-aceh/
http://belajarsejarahonline.blogspot.com/2010/07/kerajaan-samudra-pasai.html
(diakses 8 oktober 2013)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Samudera_Pasai
(diakses 8 oktober 2013)
[1] Cortesao, Armando, The Suma Oriental of Tome Pires An Account Of The East, From The Red Sea to Japan Written in Malacca and India (1512-1515), volume 1, Hakluyt Society, 1944 Kraus Reprint Limited Nendeln/Liechtenstein,1967, hlm. 135-136
05.59
Unknown
Posted in
0 komentar:
Posting Komentar