Rabu, 30 April 2014

Saya kutipkan, semoga bisa jadi referensi
Beberapa sifat dasar Hajar Aswad, seperti diketahui pada tahun 950 saat Gubernur Makkah Abdullah ibn Akim menguji batu-batu yang diduga Hajar Aswad yang dicuri sekte Ismailiyah Qaramithah 22 tahun sebelumnya, adalah terapung di air dan tidak pecah/terpanaskan meskipun dibakar di nyala api. Terapung di air menandakan densitas (massa jenis) Hajar Aswad lebih kecil dibanding densitas air, sehingga densitas Hajar Aswad kurang dari 1 gram/cc. Sementara tidak terpanaskan tatkala dibakar menunjukkan konduktivitas termal Hajar Aswad rendah dan tidak pecah akibat panas menunjukkan kekuatannya (daya ikat antar penyusunnya) cukup tinggi.
Sifat lainnya, sebagaimana dipaparkan geolog Farouk el-Baz tatkala menunaikan ibadah haji, adalah tingkat kekerasannya yang tinggi (minimal skala Mohs 7 atau setara batu permata). Sifat lainnya lagi adalah warnanya yang putih susu, sebagaimana dipaparkan sejarawan Muhammad ibn Nafi al Khaza’i yang menyaksikan langsung kondisi Hajar Aswad menjelang restorasi Sultan Murad al-Utsmani di tahun 1631.
Sementara meteorit yang ditemukan di Bumi, selalu memiliki densitas lebih dari 1 gram/cc. Meteorit batuan memiliki densitas antara 2 – 4 gram/cc, sementara meteorit besi jauh lebih besar yakni 7,8 gram/cc. Termasuk ke dalam meteorit batu misalnya meteorit palasit, yang unik karena tersusun dari kumpulan kristal berwarna putih susu dan jarang dijumpai. Densitas meteorit yang terkecil yang pernah ditemukan adalah 1,8 gram/cc yakni dari meteorit Tagish Lake yang jatuh di Kanada pada 18 Januari 2000. Tidak ada meteorit yang memiliki densitas lebih kecil dari 1 gram/cc. Selain itu, ketahanan dan kekerasan meteorit berbanding lurus dengan densitasnya. Sehingga jika Hajar Aswad adalah meteorit, dengan kekerasan Mohs 7 maka setidaknya ia harus memiliki densitas di atas 5 gram/cc, satu hal yang tak nyata karena di sisi lain akan menyebabkannya tenggelam ketika ditaruh di air.
Hajar Aswad semula dikira mineral olivine monolitik dalam meteorit palasit. Namun ciri-ciri keduanya sangat berbeda.
meteorit2
Jatuhnya Meteor dari angkasa
Hajar Aswad sebagai superkonduktor yang mempengaruhi rotasi bumi tidak jelas sumbernya dan patut dipertanyakan.
Anggapan bahwa Hajar Aswad sebagai meteorit terbantahkan oleh seorang pakar geologi Indonesia. Dalam blog-nya Pak Rovicky tampaknya senada seperti yang ditulis oleh Pak Ma’rufin Sudibyo bahwa Hajar Aswad bukanlah batu meteor. Kutipan tulisan Pak Ma’rufin Sudibyo bisa dilihat di http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html
Kesimpulannya Hajar Aswad sebagai batu meteorit adalah Hoax!
meteorit
Contoh Batuan Meteorit
Benarkah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sdg siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya ?
radio HF
Stasiun Radio Malabar, 1923
satelit
Stasiun Bumi
Sebuah perangkat komunikasi yang berfungsi sebagai Pemancar (Transmiter) haruslah membutuhkan catuan (sumber energi). Apakah catuan itu berupa Arus Bolak-Balik (AC) maupun Arus Searah (DC). Dan untuk bisa memancarkan hingga ribuan mil dengan media perantara udara/angkasa dibutuhkan catuan yang cukup besar.
Perangkat yang pernah digunakan manusia untuk mengirimkan gelombang dengan jarak ribuan mil adalah perangkat HF yang bekerja pada HF (High Frequency : 3 – 30 MHz, 10 – 100 m) dengan memanfaatkan lapisan atmosfir sebagai pantulan-pantulannya (Sky Wave). Di dunia broadcast dikenal dengan siaran SW (Short Wave), seperti BBC, VOA, Radio Australia (era1980-an). Tapi sekarang relative jarang broadcasting yang memanfaatkan frekwensi ini. Di jaman penjajahan Belanda, Dayeuh Kolot Bandung pernah mempunyai perangkat ini pindahan dari Radio Malabar untuk komunikasi ke Madagaskar dan Negeri Belanda. Dengan catuan 2,400 KiloWatt (KW). Spektakuler besarnya.
Yang kedua adalah Komunikasi satelit. Jaraknya bisa mencapai 36,000 Km dari Stasiun Bumi ke Satelit. Dengan catuan 100 Watt, bekerja di Frekwensi 4 Ghz untuk downlink dan 6 GHz untuk Uplink.
Yang menjadi pertanyaan adalah :
  1. Berapa Watt yang dibutuhkan oleh Hajar Aswad untuk memancarkan siarannya?
  2. Jenis catuan apa yang digunakan untuk memancarkan siarannya?
  3. Pada frekwensi berapa Hajar Aswad bekerja ?
Sampai saat ini belum ada penelitian untuk itu dan Batu Hitam Hajar Aswad bukan perangkat telekomunikasi.
Dalam tataran keimanan, kita meyakini bahwa Hajar Aswad saat turun dari surga adalah batu yaqut dari sekian banyak batu yaqut yang berada di sana. Kemudian dihadirkan pada Nabi Ibrahim AS agar dia meletakkannya di salah satu rukun (sendi atau sudut) Ka’bah. Lalu, Rasulullah SAW mengambilnya dengan tangannya yang mulia dan meletakkanya di tempatnya semula saat dilakukan rehabilitasi Ka’bah oleh orang-orang Quraisy. Kemuliaan keutamaannya semakin bertambah karena Rasulullah SAW menciumnya sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya.
Musafi bin Syaibah berkata, “Aku mendengar Abdulah bin Amru bin Ash radhiallahu ‘anhu berkata: ‘Aku bersaksi dengan nama Allah! (sambil meletakkan anak jarinya di telinga) aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Sesungguhnya Hajar Aswad dan Maqam adalah dua buah batu di antara batu-batu Yaqut (batu mulia) di surga, yang dihilangkan oleh Allah cahayanya, andaikan Allah tidak menghilangkan cahayanya, niscaya sinarnya menerangi antara timur dan barat’.”
Dalam Shahih Bukhari juga disebutkan bahwa Umar bin Khathab mendatangi Hajar Aswad dan menciumnya. “Sesungguhnya, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu biasa yang tidak memberikan manfaat dan mudharat. Andaikata aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu,” .
hajar aswad
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Hajar Aswad diturunkan dari surga, dahulu ia berwarna lebih putih dari susu namun berubah menjadi hitam lantaran dosa anak-cucu Adam” (sunan At-Tirmidzi dalam kitab Al-Hajj bab III/226, ia berkata ini hadits hasan shohih, dishohihkan Ibnu Khuzaimah (IV/220)).
Semoga kita bisa menerapkan sikap kehatian-hatian (wara’i) untuk memeriksa dan membuktikan berita-berita yang kita anggap ”amazing”. Tetapi sebenarnya adalah HOAX.
Wallahu ’alam bissawab
Penyusun : DioN Erbe
Referensi :
  1. http://rovicky.wordpress.com/2011/11/18/hajar-aswad-batu-apakah-kalau-bukan-batu-meteor/
  2. http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html
  3. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 5: Gunung Berapi
  4. (Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 1: Ka’bah) 
hoax

0 komentar:

Posting Komentar